Ketahanan Nasionalisme dengan Menanamkan Paham Pluralisme melalui Nilai-Nilai Budaya Jawa


Andriyanto Kurniawan, S.Pd., M.Pd.

Membacalah untuk menulis dan menulislah agar dibaca umat sepanjang hayat

(Muhammad Rohmadi Ratulisa)

Sumber: Open Ai/Chat GPT



Nasionalisme pada hakikatnya bukan sekadar kesetiaan simbolik terhadap negara, melainkan kesadaran kolektif yang hidup dalam sikap, perilaku, dan cara pandang masyarakat terhadap keberagaman. Di tengah dinamika globalisasi, derasnya arus informasi digital, serta menguatnya identitas-identitas primordial, ketahanan nasionalisme menghadapi tantangan yang tidak ringan. Nasionalisme mudah terkikis ketika perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan hidup dipertentangkan secara sempit. Dalam konteks inilah penanaman paham pluralisme menjadi strategi kultural yang relevan, khususnya melalui nilai-nilai budaya Jawa yang sejak lama mengajarkan harmoni, keseimbangan, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Budaya Jawa tidak lahir dari ruang yang homogen. Sejarah panjang perjumpaan dengan berbagai kebudayaan Hindu-Buddha, Islam, kolonialisme Barat, hingga modernitas sehingga membentuk watak budaya yang lentur dan adaptif. Kelenturan ini bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan kultural yang memungkinkan masyarakat Jawa hidup berdampingan dalam perbedaan. Nilai-nilai seperti tepa slira, andhap asor, rukun, dan sawijining rasa merepresentasikan pandangan hidup yang menempatkan harmoni sosial sebagai tujuan utama kehidupan bermasyarakat. Dalam nilai-nilai tersebut tersimpan fondasi pluralisme yang relevan untuk memperkuat nasionalisme Indonesia yang majemuk.

Pluralisme dalam perspektif budaya Jawa tidak dipahami sebagai penghapusan identitas, melainkan sebagai kesadaran untuk saling menghargai perbedaan. Prinsip tepa slira mengajarkan individu untuk menempatkan diri pada posisi orang lain sebelum bersikap dan bertindak. Nilai ini membentuk kepekaan sosial yang mencegah munculnya sikap eksklusif dan intoleran. Ketika seseorang mampu memahami perasaan dan pandangan pihak lain, konflik yang berpotensi merusak persatuan bangsa dapat diredam sejak awal. Dalam konteks nasionalisme, tepa slira berfungsi sebagai etika sosial yang menjaga kohesi masyarakat multikultural.

Nilai rukun menjadi inti kehidupan sosial masyarakat Jawa. Kerukunan tidak sekadar berarti ketiadaan konflik, tetapi upaya sadar untuk menjaga keseimbangan hubungan sosial meskipun terdapat perbedaan kepentingan dan pandangan. Semangat rukun menekankan musyawarah, kompromi, dan pengendalian ego pribadi demi kepentingan bersama. Nasionalisme yang berakar pada nilai kerukunan akan melahirkan sikap cinta tanah air yang inklusif, bukan nasionalisme sempit yang menafikan keberagaman. Dengan demikian, nasionalisme tidak diwujudkan melalui dominasi satu identitas, melainkan melalui kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai.

Budaya Jawa juga mengajarkan prinsip andhap asor, yakni sikap rendah hati dan tidak merasa paling benar. Sikap ini menjadi penyangga penting dalam menanamkan pluralisme di tengah masyarakat yang majemuk. Ketika individu memiliki kesadaran bahwa kebenaran tidak bersifat tunggal dan absolut dalam ranah sosial-budaya, ruang dialog akan terbuka lebar. Nasionalisme yang tumbuh dari sikap andhap asor tidak bersifat agresif, melainkan reflektif dan humanis. Nilai luhur yang terkandung dalam budaya Jawa mendorong warga negara untuk mencintai bangsanya tanpa merendahkan bangsa lain atau kelompok berbeda di dalam negeri.

Selain itu, konsep sawijining rasa atau rasa kebersamaan mengajarkan bahwa manusia terikat dalam satu ikatan kemanusiaan. Nilai ini melampaui batas etnis dan golongan, karena menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Dalam konteks kebangsaan, sawijining rasa sejalan dengan semangat persatuan Indonesia yang menegaskan bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan ancaman. Ketika nilai ini ditanamkan secara konsisten, nasionalisme akan tumbuh sebagai kesadaran kolektif yang kokoh dan tahan terhadap provokasi yang memecah belah.

Menanamkan paham pluralisme melalui nilai-nilai budaya Jawa juga memiliki relevansi strategis dalam dunia pendidikan dan kehidupan sosial kontemporer. Pendidikan berbasis budaya lokal dapat menjadi medium efektif untuk membangun karakter kebangsaan sejak dini. Nilai-nilai budaya Jawa yang sarat makna dapat diinternalisasikan melalui pembelajaran bahasa, sastra, seni, dan praktik sosial di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Proses ini tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga menanamkan kesadaran nasional yang inklusif dan berkeadaban.

Di era digital, nilai-nilai budaya Jawa menghadapi tantangan berupa pergeseran nilai dan gaya hidup instan. Namun, justru dalam kondisi ini, revitalisasi nilai budaya menjadi semakin penting. Ketahanan nasionalisme tidak dapat dibangun semata-mata melalui regulasi dan slogan, melainkan melalui penguatan nilai yang hidup dalam keseharian masyarakat. Budaya Jawa, dengan kearifan lokalnya, menawarkan kerangka etis yang mampu meredam polarisasi sosial dan konflik identitas yang kerap dipicu oleh informasi yang tidak bertanggung jawab.

Berdasarkan uraian di atas, penanaman nilai luhur budaya Jawa untuk memperkuat Nasionalisme diupayakan melalui wujud cinta tanah air dengan memahami keberagaman budaya Jawa. Dalam konteks ini, penulis membahas budaya Jawa karena, terdapat banyak filosofi yang diyakini oleh masyarakat Jawa tentang makna hidup yang sejatinya ialah menghidupi melalui segala karunia Tuhan. Budaya Jawa didasarkan pada, tradisi yang masih melekat tentang perjalanan hidup manusia semasa hidup. Budaya-budaya ini ialah simbol refleksi bagi generasi muda, untuk tetap belajar dari berbagai perspektif.  Kehidupan masyarakat Jawa senantiasa memegang teguh hakikat nilai humanisme seperti, urip iku urup, andhap asor, tepa selira, sawijining rasa, dan guyub rukun. Nilai ini muncul secara otomatis, karena masyarakat Jawa menjung tinggi rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan. 

Menurut penulis, dari budaya gotong royong, srawung jaga desa, slametan, Ruwahan, ngaji kawruh, dan adat istiadat yang lainnya, menjadi salah satu langkah mengenalkan pada generasi muda tentang berpratriotisme untuk nasionalisme di masa kini yang didasarkan pada nilai luhur budaya Jawa. Hal ini penulis dapatkan dari isi buku Ketahanan Nasionalisme melalui nilai luhur budaya Jawa yang diterbitkan oleh UNS Press. Buku tersebut ditulis oleh para guru besar UNS yang meliputi dosen-dosen penulis pada program studi Doktoral Pendidikan Bahasa Indonesia. Penulis terinspirasi dari beberapa tulisan: Prof. Dr. Andayani, M.Pd., Prof. Dr. Kundharu Sadhono, M.Hum., Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum., Prof. Sahid Teguh Widodo, Ph.d, dan Prof. Ani Rakmawati, Ph.d. Nilai budaya Jawa dari masa ke masa memiliki muatan karakter, eduaksi, dan psikologis yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa yang dimulai dari belajar untuk membangun pemahaman berpikir kritis yang lebih baik.

Pada akhirnya, ketahanan nasionalisme akan terwujud apabila masyarakat mampu memaknai keberagaman sebagai anugerah, bukan ancaman. Nilai-nilai budaya Jawa memberikan teladan bagaimana pluralisme dapat dihayati secara kontekstual dan membumi. Dengan menanamkan sikap saling menghormati, rendah hati, dan menjunjung tinggi harmoni sosial, nasionalisme Indonesia dapat tumbuh sebagai kesadaran yang kuat, lentur, dan berkelanjutan. Nasionalisme semacam ini tidak mudah goyah oleh perubahan zaman, karena berakar pada nilai budaya yang telah teruji oleh sejarah dan relevan bagi masa depan bangsa.


إرسال تعليق

أحدث أقدم