KECERDASAN BUATAN DALAM DUNIA AKADEMIK: BAGAIMANA ETIKA DALAM PENULISAN KARYA ILMIAH?

 

Andriyanto Kurniawan, S.Pd., M.Pd.

Membacalah untuk menulis dan menulislah agar dibaca umat sepanjang hayat

(Muhammad Rohmadi Ratulisa)

Sumber: Open AI/Chat GPT


Perkembangan zaman sangatlah pesat, era revolusi industry 4.0 yang ditandai dengan penggunaan internet dalam kehidupan sehari-hari, saat ini semakin menjadi perbincangan bagi para akademisi dan pemimpin negara Indonesia. Era revolusi 5.0 saat ini sudah ada karena ditandai dengan pemanfaatan kecerdasan buatan/ artifisial intelligence (AI). Produk AI ini hadir di Indonesia pada akhir tahun 2023 yang dapat membantu segala pekerjaan manusia dalam proses berpikir untuk melakukan sesuatu. Peran teknologi ini dihadirkan oleh beberapa negara maju seperti China dan Amerika Serikat sebagai terobosan baru di era revolusi industry 5.0 ini. Namun, perlu dipahami bahwa hadirnya AI ini menjadi perbincangan tentang etika dan moral dalam kehidupan akademik. Karena dasar dari belajar adalah bisa karena terbiasa dan diawali melalui kesalahan. Optimalisasi kecerdasan seseorang ditentukan oleh rutinitas yang ditekuni, khususnya dalam belajar menyusun karya ilmiah. Dari pengalaman penulis, terdapat beberapa AI yang dapat digunakan dalam Menyusun karya ilmiah. Alat-alat yang dinamakan sebagai AI tersebut meliputi; Chat GPT, Note GPT, Deepseek AI, Perplexcity, Gramarly, Rayyan AI, Quillbot, Scispace, Scopus AI, Scite AI, DeepL, dan Napkin AI.  Fitur-fitur yang tersedia dalam AI tersebut sangat membantu penulis untuk menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kecerdasan Buatan (AI) telah merambah berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia akademik, dengan membawa potensi yang besar dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas penelitian. Dalam konteks penulisan karya ilmiah, AI dapat digunakan untuk membantu dalam banyak aspek, mulai dari pencarian literatur, pengolahan data, analisis statistik, hingga penulisan itu sendiri. Namun, dengan potensi yang besar ini muncul pula tantangan yang terkait dengan etika. Bagaimana etika seharusnya diterapkan dalam penulisan karya ilmiah yang melibatkan AI? Dari berbagai pengalaman penulis dalam Menyusun karya ilmiah yang menjadi kewajiban seorang mahasiswa di masa kini, terdapat beberapa alat AI yang bisa digunakan sebagai teman kerja menulis. Namun, yang perlu diperhatikan ialah kesediaan penulis untuk membaca terlebih dahulu tentang apa yang ingin dipelajari dengan memperhatikan sumber referensi yang mutakhir. Mengapa demikian? Karena AI bisa membuat kekeliruan sebagaimana yang tertuang dalam prosedur penggunaan AI, misalnya Chat GPT. Setiap hasil jawaban dari AI tergantung detailnya prompt (perintah) yang dimaksud oleh pengguna dan dibatasai oleh waktu berpikir dari provider AI itu sendiri.  Jadi, keterbatasan dalam AI ini, menjadi peluang bagi setiap individu untuk lebih rajin belajar, agar pengetahuan yang diperoleh itu kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penggunaan AI dalam dunia akademik telah berkembang pesat, terutama dalam hal efisiensi dan kecepatan penulisan. Salah satu contoh yang paling dikenal adalah penggunaan alat seperti Grammarly atau Hemingway yang membantu dalam penyuntingan bahasa. Selain itu, ada juga program yang lebih canggih seperti GPT-3, yang dapat membantu dalam menghasilkan ide-ide atau bahkan bagian-bagian dari sebuah tulisan. Dengan kecanggihan teknologi ini, penulis dapat menyusun draf awal dengan cepat, serta meningkatkan keakuratan dan kelancaran bahasa dalam karya ilmiah mereka. AI juga digunakan dalam analisis data dan penyusunan literatur. Dalam penelitian ilmiah, seringkali kita menghadapi masalah dalam mencari artikel atau jurnal yang relevan dengan topik yang sedang diteliti. AI dapat menyaring dan menganalisis jutaan artikel dalam waktu singkat, sehingga mempermudah penulis dalam menemukan sumber yang tepat. Dengan demikian, AI bukan hanya sekedar alat bantu penulisan, tetapi juga bisa menjadi bagian integral dalam proses penelitian.

Dari uraian yang dibahas di atas, AI merupakan produk mutakhir yang ada dalam industry 5.0 untuk memajukan minat belajar dan bekerja secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun, meskipun AI menawarkan banyak manfaat dalam penulisan karya ilmiah, kehadirannya menimbulkan beberapa isu etika yang perlu diperhatikan. Pertama-tama, salah satu masalah etika yang muncul adalah plagiarisme. AI, seperti GPT-3, dapat menghasilkan teks yang sangat mirip dengan karya-karya ilmiah yang ada. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang orisinalitas dan kepemilikan intelektual. Dalam dunia akademik, plagiarisme adalah pelanggaran serius, dan meskipun AI dapat memproduksi teks yang terdengar asli, ia juga dapat secara tidak sengaja menciptakan kemiripan dengan karya ilmiah yang telah ada. Meskipun banyak alat AI yang dilengkapi dengan fitur pengecekan plagiarisme, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa penulis tetap bertanggung jawab atas karya yang dihasilkan. Sebagai contoh, jika seorang penulis mengandalkan AI untuk menghasilkan bagian-bagian tertentu dari karya ilmiah mereka, siapa yang seharusnya bertanggung jawab jika ditemukan kemiripan dengan karya lain? Apakah penulis atau pembuat teknologi AI yang harus memikul tanggung jawab tersebut?

Selain itu, penggunaan AI dalam penulisan juga bisa mempengaruhi transparansi dalam penelitian. Dalam konteks akademik, penulis diharapkan untuk menjelaskan metodologi dan sumber daya yang mereka gunakan dengan jelas. Jika AI digunakan tanpa pemahaman yang tepat tentang cara kerjanya, ini bisa menutupi proses yang sebenarnya terjadi di balik penulisan, sehingga mengurangi transparansi penelitian. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa penulis memberikan penjelasan yang cukup tentang bagaimana AI digunakan dalam penulisan karya ilmiah mereka, serta batasan-batasan yang ada. Masalah etika lainnya berkaitan dengan kredibilitas dan integritas penulis. Penulisan karya ilmiah seharusnya mencerminkan pemahaman dan pemikiran kritis penulis terhadap topik yang mereka teliti. Ketika AI digunakan untuk menyusun sebagian besar atau seluruh tulisan, hal ini bisa mengurangi kontribusi asli penulis terhadap penelitian tersebut. Meskipun AI dapat membantu dalam menghasilkan ide-ide atau menyusun argumen, seharusnya penulis tetap mengambil peran utama dalam merumuskan tujuan penelitian, mendesain metodologi, serta menarik kesimpulan dari data yang diperoleh.

Agar AI dapat digunakan secara etis dalam penulisan karya ilmiah, beberapa langkah perlu diambil. Pertama, penting untuk memperjelas peran AI dalam proses penulisan. AI seharusnya tidak menggantikan peran penulis, melainkan menjadi alat bantu yang mempermudah pekerjaan penulis. Penulis harus tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab penuh terhadap hasil karya ilmiah mereka. Oleh karena itu, setiap kali AI digunakan, penulis harus secara eksplisit mencatat dan menjelaskan bagaimana teknologi tersebut diterapkan dalam penulisan dan analisis.

Kedua, untuk menghindari plagiarisme, penulis harus selalu memastikan bahwa setiap ide atau kalimat yang dihasilkan oleh AI telah melalui pengecekan yang cermat untuk memastikan bahwa tidak ada pelanggaran hak cipta. Selain itu, penting juga untuk memberikan kredit yang sesuai jika AI digunakan untuk memproduksi bagian dari karya ilmiah tersebut. Penulis harus menghindari penggunaan AI untuk menghasilkan karya yang sepenuhnya tanpa kontribusi manusia, karena hal ini bisa merusak integritas penelitian.

Ketiga, transparansi dalam penggunaan AI harus dijaga. Penulis harus menjelaskan dengan jelas kepada pembaca bagaimana AI digunakan dalam penelitian mereka, serta menyebutkan alat atau perangkat lunak yang digunakan. Dengan demikian, pembaca dapat mengevaluasi validitas dan reliabilitas penelitian dengan lebih baik. Hal ini juga akan membantu mencegah salah paham dan memastikan bahwa penelitian tersebut memenuhi standar akademik yang tinggi. Keempat, penulis perlu memiliki pemahaman yang cukup tentang teknologi AI yang mereka gunakan. Meskipun alat-alat AI dapat menyederhanakan proses penulisan, penulis harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana alat tersebut bekerja. Hal ini penting untuk memastikan bahwa hasil yang dihasilkan benar-benar relevan dan sesuai dengan topik yang diteliti.

Berdasarkan penjelasan dalam tulisan ini, peran AI dalam Menyusun karya ilmiah di masa kini memanglah sangat membantu, tetapi etika dan moral pengguna harus selaras dengan karya yang dibuat. Jangan sampai ada kesalahan sumber-sumber yang tidak valid dan masuk dalam karya tersebut. Hal ini mempengaruhi orisinalitas karya sebagai produk yang bersifat terbarukan karena tuntutan perkembangan zaman dalam perspektif bidang-bidang keilmuan. Dalam tulisan ini, terdapat kiat positif yang dapat dilakukan oleh penulis dan pembelajar dalam menggunakan AI untuk teman kerja maupun alat bantu untuk menghasilkan sebuah karya yang mutakhir. Pertama, mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan dalam tolls AI yang digunakan, merencanakan kerangka kerja dalam Menyusun karya ilmiah, melaksanakan kegiatan penyusunan karya ilmiah dengan konsisten dan bertanggungjawab, mengevaluasi hasil karya dengan dasar teori yang mutakhir, dan menindaklanjuti kinerja AI yang digunakan berdasarkan hasil karya yang telah dibuat. Kiat-kiat positif ini, penulis peroleh dari gagasan Prof.Dr.Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum., yang terkenal sebagai penggiat literasi Arfuzh Ratulisa, koordinator DIKLISA (Dialog, Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra), dan guru saya di S3 Pendidikan Bahasa Indonesia UNS. Penekanan pada pentingnya membaca dan menulis (Ratulisa) menjadi dasar bagi penulis untuk membelajarkan diri dengan memanfaatkan segala kemajuan di berbagai bidang yang bermanfaat di bidang pendidikan dan pengajarannya.

Post a Comment

Previous Post Next Post