Andriyanto Kurniawan, S.Pd., M.Pd.
Membacalah untuk menulis dan menulislah agar dibaca umat sepanjang hayat
(Muhammad Rohmadi Ratulisa)
Berbahasa merupakan aktivitas fundamental manusia yang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan cara berpikir, identitas sosial, dan perkembangan kognitif seseorang. Dalam praktiknya, penggunaan bahasa tidak selalu berlangsung secara ideal. Berbagai bentuk penyimpangan kerap muncul, salah satunya pada tataran fonologi. Kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi sering kali dipandang sebagai kekeliruan biasa, padahal dalam perspektif kebahasaan yang lebih mendalam, fenomena ini dapat dipahami sebagai bagian dari hakikat patologi bahasa. Melalui sudut pandang ilmiah, kesalahan fonologis tidak sekadar menyangkut bunyi yang keliru, melainkan berkaitan erat dengan proses mental, fisiologis, dan sosial yang memengaruhi produksi bahasa.
Fonologi sebagai cabang linguistik mengkaji sistem bunyi bahasa, termasuk bagaimana bunyi dihasilkan, diorganisasikan, dan dibedakan maknanya. Pada tataran ini, kesalahan berbahasa dapat muncul dalam bentuk pelafalan yang tidak sesuai dengan kaidah fonemik bahasa tertentu. Misalnya, penggantian bunyi, penghilangan bunyi, penambahan bunyi, atau distorsi bunyi yang menyebabkan perubahan makna atau ketidakjelasan ujaran. Kesalahan semacam ini sering ditemukan dalam komunikasi sehari-hari, baik pada anak-anak yang sedang berada dalam tahap pemerolehan bahasa maupun pada orang dewasa dalam situasi tertentu. Fenomena tersebut menjadi menarik ketika dikaji sebagai indikasi adanya gangguan atau patologi bahasa.
Hakikat patologi bahasa tidak selalu identik dengan penyakit yang bersifat medis, melainkan mencakup gangguan dalam proses berbahasa yang menghambat kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif. Dalam konteks fonologi, patologi bahasa dapat muncul akibat faktor neurologis, fisiologis alat ucap, maupun pengaruh lingkungan. Gangguan artikulasi, misalnya, terjadi ketika individu kesulitan menghasilkan bunyi tertentu secara tepat karena keterbatasan organ bicara. Di sisi lain, gangguan fonologis lebih berkaitan dengan ketidakmampuan mengorganisasi bunyi bahasa secara sistematis, meskipun secara fisik alat ucap berfungsi normal.
Kesalahan fonologis juga tidak dapat dilepaskan dari proses perkembangan bahasa. Pada anak usia dini, kesalahan pelafalan sering dianggap wajar sebagai bagian dari tahapan perkembangan. Anak mungkin mengganti bunyi yang sulit dengan bunyi yang lebih mudah diucapkan atau menyederhanakan struktur suku kata. Namun, ketika kesalahan tersebut berlangsung terus-menerus tanpa perbaikan seiring bertambahnya usia, maka hal ini dapat mengindikasikan adanya patologi bahasa. Dengan demikian, batas antara kesalahan perkembangan dan gangguan bahasa menjadi penting untuk dipahami agar tidak terjadi salah penafsiran dalam proses pendidikan maupun intervensi.
Dalam perspektif sosial, kesalahan berbahasa pada tataran fonologi juga dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan lingkungan bahasa. Variasi dialek, aksen daerah, dan pengaruh bahasa ibu sering kali memunculkan perbedaan pelafalan yang dianggap sebagai kesalahan jika diukur dengan standar bahasa baku. Pada titik ini, penting untuk membedakan antara variasi fonologis yang bersifat sosiolinguistik dengan patologi bahasa yang bersifat klinis. Tidak semua penyimpangan pelafalan dapat dikategorikan sebagai gangguan; sebagian justru merupakan kekayaan linguistik yang mencerminkan keragaman penutur bahasa.
Meskipun demikian, kesalahan fonologi yang berulang dan mengganggu pemahaman komunikasi perlu mendapat perhatian serius, terutama dalam konteks pendidikan dan pembelajaran bahasa. Guru dan pendidik memiliki peran strategis dalam mengidentifikasi kesalahan berbahasa peserta didik. Pemahaman tentang fonologi dan patologi bahasa memungkinkan pendidik untuk bersikap lebih bijak dalam menilai kemampuan berbahasa siswa, tidak semata-mata menghakimi kesalahan sebagai ketidakmampuan, tetapi melihatnya sebagai gejala yang memerlukan pendekatan pedagogis yang tepat.
Dari sudut pandang psikologis, kesalahan berbahasa pada tataran fonologi dapat berdampak pada kepercayaan diri penutur. Individu yang sering mengalami kesalahan pelafalan kerap merasa cemas atau enggan berbicara di depan umum karena takut disalahkan atau ditertawakan. Kondisi ini dapat memperburuk kemampuan komunikasi dan memperkuat hambatan berbahasa yang dialami. Oleh karena itu, pemahaman terhadap hakikat patologi bahasa menjadi penting agar masyarakat mampu bersikap empatik dan suportif terhadap individu dengan gangguan berbahasa.
Kesalahan fonologis juga relevan dikaji dalam konteks perkembangan teknologi dan media digital. Di era komunikasi cepat dan serba singkat, praktik berbahasa lisan sering kali dipengaruhi oleh kebiasaan meniru tuturan di media sosial, video daring, dan konten digital lainnya. Pola pelafalan yang tidak baku dapat menyebar luas dan diterima sebagai kebiasaan, sehingga batas antara kesalahan dan kebiasaan baru menjadi semakin kabur. Fenomena ini menuntut kajian fonologi yang adaptif dan kontekstual agar analisis kesalahan berbahasa tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Berdasarkan uraian di atas, kesalahan fonologis dalam berbahasa menjadi salah satu temuan yang berdampak pada riset-riset unggulan dalam bidang bahasa yang sejalan dengan rumpun ilmu yang lainnya. Dari tulisan yang dibaca penulis, artikel ilmiah yang mengungkap aneka kesalahan berbahasa dalam tataran fonologis yang meliputi; penghilangan fonem, peleburan morfem, kesalahan pengucapan huruf, dan salah tafsir dari berbagai bunyi huruf pada anak Disleksia (anak-anak yang memiliki gangguan dalam keterlambatan berbahasa secara reseptif maupun produktif). Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kesalahan berbahasa di tataran fonologis. Hal ini meliputi: faktor psikologis, fisik, dan eksternal (pendidikan dan keluarga). Oleh karena itu, bahasa yang dijadikan alat komunikasi oleh seluruh masyarakat di dunia, harus dilandasi dengan pengetahuan berbahasa, salah satunya dengan belajar pragmatik dan linguistik.
Pada akhirnya, kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi perlu dipahami sebagai fenomena linguistik yang kompleks dan multidimensional. Kesalahan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan bunyi bahasa semata, tetapi juga menyentuh aspek kognitif, sosial, psikologis, dan kultural penuturnya. Dengan memandang kesalahan fonologis sebagai bagian dari hakikat patologi bahasa, kita diajak untuk melihat bahasa secara lebih manusiawi dan holistik. Pendekatan ini membuka ruang bagi pemahaman yang lebih mendalam, tidak hanya untuk tujuan akademik, tetapi juga untuk membangun praktik komunikasi yang inklusif dan berkeadilan.
Melalui kajian yang reflektif dan kritis, kesalahan fonologis dapat menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika berbahasa manusia. Patologi bahasa memuat serangkaian temuan bahwa bahasa bukan sistem yang statis dan sempurna, melainkan proses yang terus berkembang, dipengaruhi oleh kondisi biologis, pengalaman sosial, dan konteks budaya. Dengan demikian, membahas kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi bukan sekadar mengulas kekeliruan bunyi, tetapi juga menyingkap hakikat bahasa sebagai cermin kompleksitas manusia itu sendiri.
