Menyemai
Generasi Unggul 2045 dalam Hari Anak Dunia: Peran Strategis Guru dan Dosen di
Era Digital"
“Karya ini lahir dari anak yang semakin sering bergerak dan berupaya hingga saat ini menjadi Mahasiswa, melalui dedikasi orang tua, seluruh pendidik, masyarakat yang bertujuan belajar dan membelajarkan diri, sehingga menjadi representasi aktual dari wujud syukur terhadap karunia Tuhan”
Pada
hari ini, kamis 20 November 2025 merupakan hari anak sedunia yang menjadikan
seluruh anak di dunia menjadi objek pembicaraan, pembahasan, dan penelitian di
berbagai konteks kehidupan. Hari anak sedunia menjadi sebuah kenangan dan upaya
yang berkelanjutan bagi anak-anak di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Hal
ini berdasarkan ketetapan oleh Dewan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada
tahun 1989. Dengan ditetapkannya hari anak sedunia (HAD), memberikan pemahaman
kepada kita, bahwa anak-anak menjadi agen penerus bangsa Indonesia yang perlu
diperhatikan hak dan kewajibannya. Beberapa yang perlu dipahami ialah pendidikan
yang layak bagi anak-anak, perlindungan dari kekerasan dan perundungan, makanan
bergizi, pakaian yang ideal, dan tempat hidup yang selaras dengan keamanan dan
kesehatan. Aspek-aspek tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah NKRI untuk
tetap berkomitmen dan berkontribusi pada elemen-elemen bidang yang menangani
segala sektor kehidupan, agar berdampak baik pada anak-anak.
Kondisi
yang perlu dirasakan dan dievaluasi secara kritis dan kontekstual, bagi kita
sebagai generasi Z dan Alpha sebagai agen penerus kehidupan bangsa di masa yang
akan datang. Kedua generasi tersebut dapat dibedakan melalui periode kelahiran
di dunia, bahwa generasi Z yang mencakup individu yang lahir antara pertengahan
1990-an sampai pada awal 2010. Sedangkan untuk generasi Alpha merupakan sebutan
dari generasi muda yang lahir di tahun 2010- hingga saat ini. Esensi dari kedua
generasi tersebut, menunjukkan produktivitas anak-anak yang aktif dalam
pertumbuhan maupun perkembangan di era pesatnya teknologi, informasi, dan
komunikasi. Sampai sekarang ini, diungkapkan oleh media masa dan digital, bahwa
produktivitas anak-anak saat ini sampai era Indonesia Emas berkaitan erat
dengan teknologi dalam membantu aktivitas dan kinerja di segala bidang kehidupan.
Namun, dibalik pesatnya akses teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) di Indonesia,
menyebabkan anak-anak mulai ketergantungan dalam berliterasi sebagai wahana
memperoleh segala informasi yang dibutuhkan dalam dirinya. Sebagaimana, tulisan
ini berusaha memaparkan secara autentik, bagaimana kiat-kiat positif yang dapat
dilakukan guru dan dosen untuk meningkatkan produktivitas kemampuan belajar untuk
menjadi generasi unggul di abad-21.
Dalam
konteks, hari anak sedunia di tahun 2025, penulis memantik seluruh masyarakat
NKRI dari Sabang sampai Merauke untuk berupaya meningkatkan kesejahteraan
anak-anak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, untuk mencapai tujuan khusus
yakni: menyiapkan generasi unggul di abad-21. Pentingnya penyiapan anak-anak
sebagai cikal bakal penerus pemimpin dan masyarakat yang berkualitas, tidak
lepas dari peran pendidik yakni guru dan dosen saat ini. Kedua profesi ini,
diberikan amanah oleh Pemerintah NKRI untuk mendidik, mengajar, melatih,
mengarahkan, membimbing, dan mengevaluasi anak-anak sebagai subjek didik yang
aktif dalam dunia pendidikan. Selain itu, terdapat perbedaan yang mendasari
kinerja antara kedua profesi tersebut. Hal itu ialah dosen yang wajib
melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, khususnya tentang pentingnya hari
anak sedunia dengan semarak kegiatan yang positif dan berdedikasi. Penulis,
menemukan beberapa kiat yang dapat diupayakan untuk anak-anak di seluruh Indonesia,
dalam hal membelajarkan diri sepanjang hayat. Usia anak-anak selalu berpacu
dengan kebutuhan SDM di Indonesia, apabila saat ini peran pendidik mampu
menyiapkan generasi unggul dan bermartabat, maka Indonesia di tahun 2045 memungkinkan
menjadi negara maju secara hierarkis dan diakui oleh negara-negara lain di
dunia. Oleh karena itu, kiat yang dimaksud didasarkan pada paradigma pendidikan
di era globalisasi yang memerlukan penguatan secara mendalam, tentang cara
belajar yang efektif bagi anak-anak di masa kini. Adapun upaya positif sebagai
kiat yang terorganisasi dan sistematis yang dapat dilakukan oleh guru dan dosen
saat ini, sebagai berikut:
Penerapan Pembelajaran
Berbasis Teknologi
Pembelajaran
yang dapat diintegrasikan di masa kini bagi anak-anak ialah bahasa Indonesia.
Keterampilan berbahasa secara menyeluruh dapat ditingkatkan dan diperkuat
melalui pemanfaatan media digital sebagai bukti perkembangan pendidikan dan
pengajaran saat ini. Anak-anak dapat belajar secara mendalam baik di sekolah
maupun di rumah tentang hal-hal yang menarik. Salah satu bukti nyata dalam hal
ini, ialah penelitian, ( Kurniawan et al, 2024) membahas urgensi sastra digital
yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Keterampilan yang
diperoleh ialah membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Dalam hal ini, guru
dan dosen dapat memantik semangat belajar anak-anak melalui tayangan film
kartun tersebut. Dengan demikian, teknologi dapat terintegrasi dalam kehidupan
anak-anak di masa kini yang bersifat mengedukasi.
Mendorong Pembelajaran
Kolaboratif dan Keterampilan Sosial
Kolaborasi
antara pendidik dan peserta didik di masa kini, berpengaruh terhadap
perkembangan motorik anak-anak. Perkembangan motorik juga dapat memperkuat
kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotor. Pengetahuan yang dapat
ditingkatkan melalui kolaborasi dalam pembelajaran inovatif di masa kini ialah,
pembuatan karya dalam perspektif pembelajaran bahasa Indonesia yang berkesadaran
global. Dari hasil karya yang diciptakan, maka terbentuklah keterampilan sikap
dalam berkomunikasi sebagai upaya membelajarkan diri secara kreatif dan berkesinambungan.
Setelah aspek sikap, keterampilan yang dibentuk dari pembelajaran kolaboratif
di era digital bagi anak-anak ialah kemampuan dalam berbahasa secara reseptif dan
produktif. Dengan demikian, kehidupan sosial dengan pengawasan dan pengendalian
dalam belajar di masa kini, selaras bagi pembentukan karakter anak-anak yang dapat
dipersiapkan sejak dini untuk Indonesia di masa depan.
Pengembangan Keterampilan
Abad 21 dan Literasi Digital berbasis Proyek
Kiat
selanjutnya sebagai pendalaman dari kiat sebelumnya ialah pentingnya
keterampilan abad-21 meliputi: berpikir kritis, berkolaborasi, bergerak kreatif,
dan berkomunikasi secara interaktif. Empat kecakapan tersebut, dapat dipahami
dengan baik oleh anak-anak Indonesia di masa kini melalui pembelajaran inovatif
dari guru dan dosen di abad-21. Berdasarkan hal ini, penulis menginspirasi
anak-anak di Indonesia melalui peran guru dan dosen melalui tayangan film
kartun Sopo Jarwo yang dapat diakses di Youtube, channel MD Entertainment.
Dengan integrasi film kartun tersebut mampu menanamkan jiwa kreatif dan
imajinasi yang positif untuk perkembangan psikis dan fisik bagi anak-anak Indonesia.
Berdasarkan
pemanfaatan media digital untuk pengembangan keterampilan abad-21, maka diperlukan
penguatan literasi digital berbasis proyek. Berbicara tentang literasi di era
digital, selalu disebarluaskan oleh pakar pendidikan sekaligus guru besar UNS
yakni, Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S.,M.Hum. Hal ini direpresentasikan secara
intelektual dan praktis, bagi anak-anak di masa kini dan diperkuat oleh peran
pendidik saat ini. Objek yang bermanfaat dari pengalaman Bapak Rohmadi sebagai
Bapak Ratulisa (Rajin menulis dan membaca) Indonesia adalah dengan slogan, “membacalah
untuk menulis, agar dibaca umat sepanjang hayat”. Dari perspektif edukasi bagi
anak-anak, maka peran pendidik baik guru dan dosen, harus senantiasa memantik
dan membelajarkan mereka untuk menggali potensi yang dimiliki di era digital
ini dengan berliterasi. Literasi yang dapat dilakukan bisa diawali dengan
membaca dan menulis di era digital. Setelah itu diperkuat dengan literasi informasi,
numerasi, sains, dan kewargaan sesuai yang disepakati oleh UNESCO (Organisasi
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) dan OECD (Organisasi Kerja
Sama dan Pembangunan Ekonomi).
Berdasarkan
deskripsi tentang perayaan hari anak dunia yang dijabarkan oleh penulis, dapat
disimpulkan bahwa anak-anak dapat melaksanakan kiat positif dibantu oleh
bimbingan para pendidik, orang tua, saudara, dan masyarakat sekitar di era
digital ini dengan menerapkan konsep 5M.
Konsep ini dibuat berdasarkan referensi-referensi dari artikel Opini, Prof. Dr.
Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum. yang
terdiri dari mendengar, melihat, merasa, mencipta, dan melakukan. Hal ini
digagas oleh penulis sendiri sebagai daya pemantik untuk terus belajar bersama
anak-anak di Indonesia. Kemudian dasar terciptanya 5M ini, juga diperjelas
dengan kolom opini yang sudah terpublikasikan di media sosial edukatif karya Bapak
Rohmadi Ratulisa berupa: “(1)
Mendoakan dan membukakan jalan kemudahan untuk belajar kritis dan berliterasi
ratulisa kepada-Nya; (2) Mendekatkan anak-anak dengan sumber literasi cetak dan
digital yang sesuai usianya; (3) Mengajak anak-anak untuk belajar secara
kritis dan berliterasi ratulisa secara bertahap bersama pendampingnya; (4)
Membiasakan anak-anak untuk terus belajar kritis dan berliterasi dengan
ratulisa; dan (5) Melatih untuk menuangkan gagasan, baik dalam bentuk tulis
maupun lisan dengan benar, baik, dan santun.” Dengan demikian, dari pendidikan
yang berkualitas dan bermartabat, dapat berdampak baik bagi anak-anak yang
ditandai dengan kesehatan yang berkepanjangan dan bermaslahat. Itulah definisi
terbaik dari hari anak sedunia saat ini, yang dapat disampaikan oleh penulis
sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta.
Sumber Referensi terkait:
Kurniawan, A., & Widayati, M. (2024).
Multicultural Representation in Sopo Jarwo Cartoon Series for The Reinforcement
of Global Diversity Awareness. UTAMAX: Journal of Ultimate Research and
Trends in Education, 6(3), 222–231.
https://www.alexainfoterkini.com/2025/11/kolom-prof-dr-muhammad-rohmadiss-mhum.html
