WAHANA EDUKATIF BAGI MASYARAKAT DI ERA DIGITAL BERBASIS SOSIOLINGUISTIK: TINJAUAN LINGUISTIK TERAPAN

 

WAHANA EDUKATIF BAGI MASYARAKAT DI ERA DIGITAL BERBASIS SOSIOLINGUISTIK: TINJAUAN LINGUISTIK TERAPAN

 

“Keheningan yang diolah dengan perasaan daya intelektual akan menghasilkan sebuah karya yang berarti dan selalu abadi”

 

Pada kesempatan ini, saya akan mencoba mengungkap temuan ideal di era digital dalam konteks kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pentingnya linguistik terapan. Pembelajaran bahasa Indonesia tidak bisa dilepaskan oleh unsur-unsur linguistik. Aspek linguistik yang dibahas tidak hanya linguistik struktural berupa struktur bahasa yang meliputi: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, dan leksikon. Sedangkan linguistik terapan mengkaji secara mendalam bagaimana hubungan antara bahasa dengan kehidupan sehari-hari. Dalam linguistik terapan, beberapa kajian yang dibahas ialah pengajaran bahasa, psikolinguistik, linguistik forensik, sosiolinguistik, linguistik komputasional, linguistik sosial, linguistik terjemahan, linguistik korpus, linguistik pendidikan, dan linguistik kesehatan. Dari berbagai kajian ilmu linguistik ini, fenomena yang dibahas dalam tulisan ini ialah sosiolinguistik sebagai kajian linguistik terapan. Hal ini dipilih sebagai temuan penting terkait penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sosiolinguistik, aspek-aspek yang berhubungan dengan bahasa dapat dikaji secara hirearkis meliputi: variasi bahasa, diglosia, alih kode, bahasa dan Identitas sosial, bahasa dan kekuasaan, dan pemisahan bahasa. Berdasarkan teori tersebut, penulis ingin berbagi cerita untuk dinikmati bersama, semoga memberikan manfaat dan maslahat bagi semuanya. Adapun tinjauan sosiolinguistik berbentuk narasi disajikan secara seksama sebagai berikut:

Berawal dari kedatangan Mas Indra dan Andri di warung kopi Pak Margono yang terletak di area taman Masdulkabi (Masyarakat Peduli kali Baki) kemarin petang. Hari-hari yang terlihat bahagia dengan adanya serangkaian acara-acara kemasyarakatan dalam merayakan hari ulang tahun Dirgahayu Indonesia. Acara ngobrol santai yang berwawasan edukatif di masa kini sebagai respon perubahan zaman yang semakin maju.Pembahasan dimulai ketika Mas Andri dan Mas Indra menghampiri angkringan Pak Margono yang terkenal kas dengan nasi kucing dan teh panas citra rasa tradisional.Berawal dari pembicaraan tentang upaya pendaftaraan beasiswa Indonesia jenjang perguruan tinggi. Seketika Pak Margono ikut dalam diskusi yang bersifat non formal tersebut. Pak Margono langsung masuk dengan bertanya, "Apakah ada beasiswa yang dapat diusahakan oleh anakku Dewi saat ini Bro?" Tanya Pak Margono dengan suara penuh konsentrasi, ditandai matanya yang berbinar-binar. Kemudian, Mas Indra menjawab, "ada Pak, ini kami juga membahas program tersebut yang sedang diupayakan oleh Andri". Pak Margono mulai menyiapkan kopi panas aroma melati beserta sepiring nasi kucing yang masih hangat, masakan istrinya sebagai menu andalan di Angkringannya. Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih mendalam, ada hal yang perlu diketahui bagi masyarakat umum di Indonesia. Setiap akses yang dilihat dan dapat digunakan untuk berbagai hal, ada paradigma pendidikan edukatif di era digital berbasis Sosiolinguistik. Konsep yang dimaksud disini ialah belajar untuk membelajarkan diri sebagai upaya implementasi pendidikan formal yang telah dijalani maupun yang sedang berlanjut. Sosiolinguistik merupakan rumpun ilmu interdisipliner yang mendalami peran bahasa dalam masyarakat untuk mewujudkan persepsi-persepsi bahasa sebagai alat komunikasi sosial yang mampu mempersatukan generasi NKRI yang bermartabat dan berbudi pekerti. Sub bidang keilmuan dalam ilmu sosiolinguistik meliputi; Variasi bahasa yang didalamnya terdapat kajian ilmu dialektologi; idiolek; ragam bahasa; register; kode. Perubahan bahasa yang membahas, fonologis; morfologis;sintaksis, kontak bahasa, dan semantis. Bahasa dan identitas sosial, multilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, bahasa dan kekuasaan, bahasa dan budaya, dan bahasa sebagai media di masyarakat.

Bidang ilmu sosiolinguistik tersebut secara tidak langsung kita temukan dalam obrolan-obrolan edukatif yang dilakukkan oleh Mas Andri, Indra, dan Pak Margono di Angkringan tersebut. Adanya pertemuan non formal yang memiliki nilai-nilai edukatif, tampaknya memberikan paradigma baru bagi Masyarakat di area Baki Sukoharjo untuk menghayati bahasa dalam masyarakat. Pentingnya kemampuan berbahasa untuk mendapatkan informasi yang relevan sehingga berdampak bagi kemaslahatan umat sepanjang hayat. Untaian suara-suara ciamuk yang dihangati oleh kopi panas beraroma melati membawa mereka ke ranah yang lebih serius tentang upaya memperoleh beasiswa yang sedang diimplementasika oleh pemerintah.Konsep ilmu sosiolinguistik disini ditemukan di Taman Masdulkabi sebagai wahana edukatif dalam membelajarkan diri dengan objek bahasa sebagai alat untuk memperoleh informasi yang aktual dan bermartabat. Terjadinya peristiwa tutur yang menunjukkan adanya variasi bahasa yang ditunjukkan melalui alih kode dan campur kode membuat penulis mengabadikan momen tersebut melalui tulisan ini. Harapan yang diinginkan oleh penulis ialah ruang-ruang semesta dapat berkontribusi sebagai pemantik memajukan generasi NKRI melalui kompetensi berbahasa yang santun dan komunikatif. Upaya-upaya ini salah satunya melibatkan pembahasan tentang sosiolinguistik dasar yang berawal dari cara pandang masyarakat dalam berbahasa di konteks umum, khususnya di Taman Masdulkabi.

Ulasan-ulasan yang diperoleh selama pembicaraan di angkringan Pak Margono menunjukkan adanya bahasa lokal yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia untuk menguatkan komunikasi yang interaktif. Temuan ini dibuktikan dengan tuturan yang dikemukakan oleh Pak Margono kepada Mas Andri terhadap objek peristiwa yang sedang dibahas. Hal ini dinyatakan dalam tuturan berikut; "Loh...loh, saiki opo ijek isoh daftar beasiswa tanpo anane KIP?" "Kemudian, beasiswa yang ramai diperbicangkan akhir-akhir ini, pas sasi Agustus iki apa Ndri?" Jawab Andri dengan tenang dan serius, "Iseh isoh Pak Margono, namun yang dibuka pemerintah pada periode bulan Agustus tahun ini ialah, beasiswa unggulan bagi masyarakat berprestasi di Indonesia, LPDP yang saat ini dibuka pula dalam bidang prestasi keolahragaan". Berdasarkan adanya tuturan-tuturan tersebut, dapat kita amati sekaligus didalami, peran bahasa dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya bahasa Indonesia yang memuat nilai-nilai edukatif yang dapat memberikan pemahaman kepada khalayak umum.

Perspektif dalam ilmu Sosiolinguistik yang terdapat dalam perbincangan tersebut ialah menunjukkan kedudukan bahasa sebagai alat komunikasi yang mencerminkan asal muasal masyarakat pemakai bahasa. Ditinjau dari segi geografis, bahasa yang digunakan mengarah pada konteks dialek jawa ngoko halus yang menunjukkan adanya kekerabatan yang sudah ada. Selain itu, jika ditinjau dari fungsi bahasa, ragam bahasa tersebut mencirikan penggunaan bahasa di kalangan masyarakat yang diklasifikasikan menjadi bahasa formal dan non formal. Situasi dan kondisi dalam peristiwa tuturlah yang menjadi pedoman bagi masyarakat pemakai bahasa di lingkungan tersebut. Terdapat pembahasan yang perlu kita ketahui, berdasarkan pembicaraan di angkringan antara ketiga pihak. Pertama, bahasa digunakan oleh masyarakat untuk menjalin keakraban, kerukunan, dan simbol adanya kehidupan masyarakat yang berpegang teguh terhadap norma-norma sosial. Kedua, masyarakat pemakai bahasa di lingkungan tersebut mencerminkan adanya ragam bahasa yang disesuaikan dengan dialek dan fungsiolek. Ketiga, terdapat alih kode dan campur kode dalam menggunakan bahasa di lingkungan masyarakat. Terakhir, diketahui bahwa masyarakat dalam menggunakan bahasa memiliki tujuan untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan kehendak pemikirannya dan benar-benar bisa diterima oleh akal pikiran manusia, sehingga informasi yang diperoleh bersifat logis dan terarah.

Bahasa yang digunakan oleh pemakai bahasa atau masyarakat bahasa dalam penggalan cerita di atas termasuk bagian dari konsep sosiolinguistik. Masyarakat berkeyakinan dan berpegang teguh terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat bahasa yang lainnya untuk memperoleh pemahaman terhadap kejadian atau peristiwa. Ragam bahasa formal ditunjukkan melalui jawaban yang diungkapkan oleh Andri, dengan penggunaan bahasa Indonesia dalam menyampakan sebuah informasi. Sedangkan ragam bahasa non formal digunakan oleh Pak Margono dalam bertanya seputar beasiswa yang sedang dibuka oleh Pemerintah Indonesia. Bahasa yang digunakan cenderung ke dialek Jawa ngko alus, yang menunjukkan terdapat hubungan kekerabatan antara penutur dan mitra tutur. Alih kode yang terjadi dalam peristiwa tutur tersebut ialah dari penggunaan bahasa Jawa beralih ke bahasa Indonesia, karena dilatarbelakangi oleh konteks peristiwa dan penghargaan atas peran penutur di lokasi terjadinya komunikasi. Campur kode yang terjadi ditunjukkan melalui jawaban yang dilontarkan kepada Pak Margono. Konsep tuturan yang diawali penggunaan bahasa Jawa ngko alus, langsung ditonjolkan penggunaan bahasa Indonesia dalam menyampaikan informasi yang dibutuhkan oleh Pak Margono sebagai mitra tutur. Temuan-temuan inilah yang menjadi bahan pemikiran dan pemahaman yang mendalam untuk menginterpretasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang seringkali kita pandang sebelah mata, memliki kekhasan bagi setiap jiwa-jiwa yang ingin berkreasi dan menghidupkan jiwanya melalui pemikiran kritis yang berpotensi memajukan daerahnya.

Kondisi tersebut, jika dikaji secara umum memiliki tafsiran ilmu pengetahuan tentang bahasa, yakni bahasa dalam mewujudkan lingkungan yang berbasis wahana edukasi dan bahasa berperan dalam kelangsungan hidup masyarakat setempat. Nilai edukatif yang ada dalam peristiwa tutur sebagai implementasi komunikasi yang santun dan efektif terdapat di area Taman Masdulkabi di Baki Sukoharjo Jawa Tengah Indonesia. Banyaknya anggota-anggota masyarakat yang memanfaatkan tempat tersebut untuk beberapa kegatan dan tujuan tertentu. Kondisi ini menjadi tempat bertemunya antarsesama manusia dalam berkomunikasi dan berkolaborasi untuk menghubungkan jaringan-jaringan yang bersifat multikonteks dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa yang baik dan komunikatuif perlu dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat yang terdapat di seluruh wilayah NKRI baik dari yang anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua sebagai pemakai bahasa yang kompetitif. Marilah kita mewujudkan kiat-kiat positif untuk memperkuat hubungan antarumat melalui 5S; salam, sapa, senyum, semangat, dan senang. Hal ini diperkuat dengan langkah-langkah yang selaras dalam bergerak dan menggerakan seluruh elemen dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum meliputi; Mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan diri, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, serta menindaklanjuti upaya-upaya untuk membelajarkan diri dalam multikonteks berbasis bahasa.

 Kumpulan E-book Literasi Digital Kajian Linguistik

Baca Juga: Tutorial Tautkan Link Monetag di Website secara Cepat, hingga hasilkan uang

 

Post a Comment

Previous Post Next Post