​Literasi Multikultural melalui Budaya Membaca dan Menulis di Sekolah Dasar; Urgensi Berbahasa secara Reseptif ​dan Produktif di Era Masa Kini

 

Literasi Multikultural melalui Budaya Membaca dan Menulis di Sekolah Dasar; Urgensi Berbahasa secara Reseptif dan Produktif di Era Masa Kini

 

“Belajar hari ini sebagai bekal hidup di masa depan, dengan limpahan rahmat dan karunianya.” “Ibarat Sang Surya menyinari dunia tanpa henti untuk memberikan kehidupan bagi semua makhluk yang ada di Bumi.”



Gambar Visualisasi Literasi Multikultural di Masa Kini

Sumber: Open Ai.com

Tonton Video Edukasi Lainya: Klik Disini

Keterampilan berbahasa secara reseptif dan produktif sangat penting sebagai wujud komunikasi yang efektif dan bersifat interkultural. Indonesia sebagai negara agaris memiliki beranekaragam hasil bumi yang fokus ke dunia lautan. Wilayah Indonesia yang terbentang luas dari sabang hingga merauke menunjukkan kompleksitas dan luasnya negara ini untuk dicermati secara mendalam. Hal ini membutuhkan keterampilan yang dinamakan sebagai literasi.  Perlu diketahui, bahwa pengertian literasi secara etimologi ialah kemampuan dasar dalam membaca dan menulis untuk mendapatkan sebuah informasi. Pengertian tersebut berawal dari kata “literasi” yang berasal dari bahasa Latin “literatus” yang berarti “terpelajar” atau memiliki pengetahuan dalam bidang tertentu. Namun, pengertian itu termasuk pada hakikat dasar literasi di bangku pendidikan Indonesia yang dibatasi pada kemampuan membaca dan menulis. Kedua keterampilan ini memang bagian dari literasi, tetapi secara global, kompleksitas dari literasi terdiri dari 6 jenis yakni, literasi baca tulis, literasi numerik, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Jenis-jenis tersebut memberikan paradigma kekinian yang menyebarluaskan literasi sebagai kemampuan untuk memahami dan menganalisis informasi dalam berbagai bentuk, seperti gambar, data, dan media digital. Kecakapan tersebut terjadi karena adanya dorongan batin manusia untuk memperoleh sebuah pengalaman melalui potensi yang dimiliki dalam belajar. Melalui perspektif pentingnya literasi di era global, sudah selayaknya penulisan hasil riset yang orientasinya ke literasi multikultural melalui pengalaman membaca dan menulis.

Literasi multikultural ialah kemampuan mengenali, memahami, menafsirkan, mengidentifikasi, dan mengimplemntasikan pengetahuan yang berorientasi pada rasa menghargai antarsesama, rasa toleransi, dan menghargai perbedaan demi menciptakan rasa persatuan dan kesatuan. Pendidikan di Indonesia yang dituntut untuk mengimplementasikan literasi multikultural salah satunya di jenjang SD. Siswa diajak untuk menghargai perbedaan baik dari ras, agama, dan etnis yang diungkapkan melalui bahasa. Hal ini di SD, pembelajaran bahasa Indonesia menjadi wahana bersosialisasi baik secara lisan dan tertulis sebagai dasar pembentukan keterampilan reseptif dan produktif. Keterampilan reseptif meliputi membaca, menyimak, dan memirsa. Sedangkan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif ialah menulis dan berbicara. Dalam konteks ilmiah, saat ini pengembangan keterampilan menulis akan direalisasikan oleh Pemerintah Indonesia, melalui instruksi dari Presiden Indonesia yakni, Bapak Prabowo Subianto. Perlunya penguatan budaya menulis bagi para siswa di Indonesia untuk menguatkan potensi yang dimiliki sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan di era digital saat ini. Oleh karena itu, penulisan ini bertujuan untuk menggeneralisasi pemahaman literasi multikultural melalui keterampilan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD.

Keterampilan menulis di SD, dilakukan secara bertahap dari kelas 1-6  dengan materi dan teknik yang bervariasi. Hal ini disesuaikan dengan latarbelakang dan usia siswa, sehingga konsep dasar menulis dapat dipahami dengan baik untuk diterapkan secara berkesinambungan. Konteks menulis berbasis pemahaman literasi multikultural di SD ialah, kemampuan mengelola pengetahuan yang diperoleh melalui berbagai sumber sebagai pengalaman belajar yang berharga dengan orientasi memahami, menghargai, dan mengapresiasi keberagaman budaya dalam tulisan yang dibuat di sekolah. Pembelajaran bahasa Indonesia menjadi tonggak awal terciptanya generasi literat, sebagai agen transformasi yang mampu menyikapi berbagai informasi yang diperoleh di era digital untuk menguatkan sumber daya manusia yang bertaqwa, unggul, dan berkarakter. Dari perspektif konstruktivisme tersebut, diharapkan seluruh pendidik di Indonesia mampu merealisasikan pembelajaran menulis secara sistematis berdasarkan tahapan menulis dalam literasi multikultural sebagai berikut.

Tahapan Menulis Dasar dan Pengantar Keberagaman

Pada tahap ini, siswa  kelas 1 dan 2 SD mulai mengenal dasar-dasar menulis, seperti menulis huruf, kata, dan kalimat sederhana. Materi yang diajarkan lebih berfokus pada pengenalan diri, lingkungan sekitar, dan cerita-cerita sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Dalam konteks literasi multikultural, siswa dikenalkan dengan cerita rakyat, lagu, atau gambar yang mencerminkan berbagai budaya dan tradisi. Guru membimbing siswa untuk menulis tentang keluarga, teman, atau kegiatan sehari-hari yang mencerminkan keberagaman budaya di sekitarnya. Tujuan pada tahap ini adalah untuk membantu siswa menyadari keberagaman yang ada dalam kehidupan sehari-hari, serta mengapresiasi perbedaan tersebut dalam bentuk tulisan yang sederhana.

Tahapan Menulis Deskripsi dan Cerita Berbagai Budaya

Pada tahapan ini, siswa kelas 3-4 mulai menulis teks yang lebih terstruktur, seperti deskripsi atau cerita pendek. Pembelajaran yang dilakukan berfokus pada menulis objek berbasis keberagaman budaya, tempat, atau perasaan dengan kalimat yang lebih panjang dan kompleks. Dalam literasi multikultural, ide dapat diawali dengan bertanya dan berbagi cerita dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dalam satu sekolah. Misalnya, menulis tentang kebiasaan unik yang ditemui di rumah teman, atau kegiatan budaya yang diikuti di sekolah. Materi ini membantu siswa mulai memahami dan mengekspresikan keberagaman budaya dalam tulisannya, serta mengenali cara-cara yang berbeda dalam menyampaikan informasi dan cerita. Hal inilah yang menjadi dasar berkembangnya imajinasi melalui gerakan literasi multikultural di SD.

Tahapan Menulis Narasi dan Argumentasi tentang Keberagaman

Pada tahap akhir implementasi literasi multikultural di SD, siswa kelas 5 dan 6 diajarkan untuk menulis teks yang lebih panjang dan kompleks, seperti narasi, esai, atau teks argumentasi. Mereka diperkenalkan dengan teknik menulis yang lebih mendalam, seperti menyusun pendapat atau argumen dalam tulisan. Dalam konteks literasi multikultural, siswa dapat diminta untuk menulis tentang isu-isu sosial atau budaya, seperti pentingnya toleransi dalam menghargai perbedaan, dan upaya merayakan keberagaman dalam kehidupan sekolah maupun masyarakat. Dengan ini, cerita fiksi yang mencerminkan nilai-nilai multikultural, atau bahkan membuat proyek menulis yang melibatkan kolaborasi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang budaya memperkuat pemahaman tentang tulisan yang dibuat berdasarkan pengalaman nyata. Hasil akhir yang diharapkan, siswa belajar untuk menyusun argumentasi dan mengembangkan pemikiran kritis tentang keberagaman budaya, serta mengekspresikan ide-ide dalam bentuk tulisan yang lebih terstruktur dan berbobot.

Tahapan tersebut perlu diketahui untuk diterapkan seluruh pendidik di Indonesia, khususnya jenjang SD/MI. Sebagai penutup, orientasi literasi multikultural melalui budaya membaca dan menulis sudah seyogyanya melibatkan sumber-sumber yang beranekaragam. Salah satu referensi yang dapat dirujuk oleh pendidik ialah karya-karya artikel opini tentang pentingnya menulis dan membaca yang digagas dan dikembangkan oleh guru besar UNS, Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum. yang dijuluki sebagai Bapak Ratulisa Surakarta. Slogan yang selalu ia tanamkan kepada siswa, mahasiswa, pendidik, dan masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke bahwa dengan rajin membaca dan menulis, penghayatan insan yang berbudi pekerti luhur untuk mensyukuri karunia Tuhan dapat berdampak sepanjang masa dan memberikan kemaslahatan yang tiada terkira. Pesan singkat namun bermakna yang disampaikan oleh beliau dalam gerakan Arfuzh Ratulisa ialah, “membacalah untuk menulis, dan menulislah agar dibaca umat sepanjang hayat.” Dengan demikian, pentingnya literasi multikultural untuk menguatkan pemahaman siswa dalam belajar berbahasa secara reseptif dan produktif dapat dilakukan secara konsisten. Hal ini melibatkan seluruh elemen pendidikan Indonesia dengan mengembangkan sistematika pelaksanaan dan materi  pelajaran bahasa Indonesia di SD. Literasi ini diharapkan mampu menjadi dasar pijakan bagi pemangku kebijakan dalam bidang pendidikan Indonesia untuk meningkatkan budaya literasi melalui baca tulis, sehingga produktivitas NKRI di masa depan lebih baik, sehingga di tahun 2045 terwujud Indonesia emas.

 

 

 

Post a Comment

Previous Post Next Post