PENGUATAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN KOLABORASI SAINS, TEKNOLOGI, DAN BAHASA INDONESIA; SINERGITAS PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK ABAD-21

 

PENGUATAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN KOLABORASI SAINS, TEKNOLOGI, DAN BAHASA INDONESIA; SINERGITAS PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK ABAD-21

 

 

Oleh: Andriyanto Kurniawan, S.Pd., M.Pd.

“Setiap gerakan jari jemari berusaha mengiringi rintik-rintik hujan, sebagai sumber penghidupan yang tetap abadi, maka terciptalah tulisan ini sebagai informasi yang bermakna di masa kini”.



 

 

Sumber: Open AI.com

Pendidikan di Indonesia seiring berjalannya waktu mengalami transformasi yang menandai terwujudnya peradaban bangsa yang lebih sinergis dan kompetitif. Pendidikan yang bermartabat selalu menjadi tonggak kemajuan bangsa yang selaras dengan Pancasila dan UUD 1945. Tujuan Pendidikan nasional berdasarkan dasar fundamental sebagai landasan filosofis, yuridis, dan operasional yang menjadi pijakan dalam menyelenggarakan sistem Pendidikan yang bermartabat dan tepat sasaran, maka di era kekinian harus mampu mencapai pemahaman yang kompleks sesuai konsep Pendidikan abad-21. Pendidikan yang ada di Indonesia selalu berpijak pada nilai-nilai Pancasila, sehingga setiap program Pendidikan harus mengarah pada; 1) pembentukan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. 2) Pendidikan harus memanusiakan manusia, menghargai hak asasi, dan mengembangkan sikap toleransi. 3) Pendidikan harus memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Bhineka Tunggal Ika. 4) Program Pendidikan yang dilaksanakan harus mampu membentuk peradaban bangsa yang demokratis dan mengutamakan kolaborasi yang ideal. 5) Pendidikan berusaha memberikan hak dan kewajiban yang sama bagi seluruh warga negara tanpa ada diskriminasi yang merugikan bangsa. Landasan fundamental tersebut berorientasi pada kolaborasi sains, teknologi, dan bahasa Indonesia sebagai sinergi memajukan Pendidikan Indonesia di abad-21.

Berlandaskan Pancasila, pendidikan di Indonesia juga memiliki dasar konstitusional yang teridiri dari 3 pasal dalam UUD 1945. Bunyi pasal 31 tersebut ialah; 1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, 2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan 3) Pemerintah wajib membiayainya, dan pemerintah mengusahakan, menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Berdasarkan bunyi pasal tersebut, pemerintah memiliki tanggungjawab untuk memberikan pelayanan terbaik dalam bidang Pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Berawal dari komitmen tersebut, sinergi pendidikan yang adaptif, ideal, dan bermartabat dapat dikolaborasikan melalui rumpun keilmuan sains, teknologi, dan bahasa Indonesia.

Dasar yang menginspirasi penulis untuk mendeskripsikan sinergi pendidikan melalui kolaborasi ilmu sains, teknologi, dan bahasa Indonesia juga didasarkan pada UU Sisdiknas yang mengatur lebih dalam dan rinci tata kelola pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Sains sebagai ilmu yang mempelajari tentang alam semesta dan isinya dengan dasar pembuktian yang empiris dan ilmiah. Sains tidak bisa dipisahkan oleh keingintahuan individu dalam meneliti seluk beluk alam semesta, sehingga memunculkan pengetahuan yang bersifat teoretis dan praktis. Ilmu Sains selalu mengarahkan individu untuk meneliti dan menghasilkan temuan yang kredibel dan sesuai dengan konsep, prosedur, dan implementasi dari hasil penelitian. Dalam konteks ini, sains sebagai ilmu pengetahuan menjadi dasar dalam mengelola dan memajukan pendidikan Indonesia. Hal ini didasarkan pada ilmu-ilmu yang dipelajari berupa, Fisika, Kimia, Biologi, dan Ilmu Bumi. Realisasi kelilmuan tersebut sudah dibuktikan dengan berbagai program pembelajaran terpadu di SD, SMP, SMA/K, dan perguruan tinggi.

Hakikat sains sebagai dasar memperoleh pengetahuan yang bersifat empiris melalui fenomena yang ada di alam semesta menjadikan peserta didik untuk berusaha berpikir kritis dalam memecahkan berbagai permasalahan melalui pembinaan dari pendidik. Dengan adanya pembelajaran sains, maka terciptalah literasi sains yang memperdalam pemahaman siswa melalui materi-materi yang diajarkan guru di setiap jenjang pendidikan. Tujuannya sama dengan rumpun ilmu yang lainnya baik berupa teknologi dan bahasa Indonesia, yakni peserta didik diharapkan mampu menguasai konsep, penalaran, dan pemaknaan dari fenomena yang ada di alam semesta secara kontekstual. Pemahaman tersebut menjadi bukti bahwa aktivitas belajar peserta didik berkembang sesuai dengan capaian pembelajaran yang terkait.

Teknologi sebagai ilmu yang selalu dikaji perkembangannya secara mendalam oleh pemerintah maupun sivitas akademika di perguruan tinggi Indonesia menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan Indonesia yang telah direalisasikan melalui implementasi ilmu sains. Keberadaan teknologi sebagai jembatan dalam memahami permasalahan yang diselesaikan secara ilmiah baik itu tentang fisika, kimia, biologi, dan alam semesta membutuhkan sarana yang memadai, oleh karena itu teknologi hadir untuk membantu penyelesaian permasalahan tersebut. Dalam bidang pendidikan, teknologi sudah menghadirkan konteks digitalisasi pembelajaran, yang menempatkan pendidik sebagai fasilitator yang menjadi ciri khas pendidikan di abad-21. Pelaksanaan pendidikan yang melibatkan pendidik dan peserta didik menjadi lebih ideal jika memanfaatkan teknologi untuk memberikan pendalaman materi yang selaras dengan latarbelakang peserta didik. Setiap individu memiliki keunikan dalam belajar, sehingga kepekaan pendidik, memerlukan pemahaman konteks fenomena sains dan teknologi untuk membuktikan empirisme keilmuan yang berasal dari cipta, rasa, dan karsa pendidik. Hal ini sebagai simbolis pendidikan yang terlaksana dapat membawa perubahan yang positif untuk mengisi kesenjangan yang ada saat ini.

Pembelajaran yang adaptif berusaha mentransformasikan keilmuan dari beberapa bidang, salah satunya kolaborasi antarrumpun keilmuan berupa sains, teknologi, dan bahasa Indonesia. Pengintegrasian ketiga rumpun ilmu pengetahuan ini bertujuan untuk menguatkan kesadaran global bagi pendidik dan peserta didik sebagai asset paling berharga di masa depan. Harapannya bahwa di tahun 2045 mendatang, Indonesia mampu mewujudkan visi misi menjadi negara maju (Indonesia emas), yang ditandai dengan meningkatnya sumber daya manusia melalui program pendidikan yang bermartabat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan pendidik dalam membelajarkan peserta didiknya ialah, mengkolaborasikan ilmu sains, teknologi, dan bahasa Indonesia sebagai satu unsur yang membangun pemahaman berpikir kritis, kreatif dan inovatif, berkolaborasi, dan berkomunikasi. Bahasa Indonesia menjadi sarana memetakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan fenomena yang dipelajari dalam sains, kemudian dihubungkan secara empiris melalui pemanfaatan teknologi. Sinergi antarkeilmuan ini dapat diimplementasikan pendidik dalam pembelajaran bahasa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan. Dalam konteks ini, empirisme dan eksistensialisme yang ada dalam filsafat pendidikan dibuktikan melalui karya-karya yang sudah ada dan menjadi dasar pengembangan keilmuan selanjutnya untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Sinergi tritunggal keilmuan tersebut memberikan inovasi karya edukasi bagi pendidikan Indonesia dari berbagai jenjang sebagai berikut; pada jenjang SD, tercipta video edukatif dengan bahasa yang komunikatif tentang dokumentasi pertumbuhan kacang hijau dengan media yang beranekaragam, jenjang SMP berupa pembuatan blog sains berbahasa Indonesia yang membahas upaya pencemaran lingkungan secara kreatif, jenjang SMA dan SMK berupa penggunaan QR Code untuk mebuktikan kepedulian masyarakat terkait peduli lingkungan untuk menumbuhkan ekonomi hijau secara berkesinambungan, dan pada tingkat perguruan tinggi, mahasiswa mampu mengembangkan dan menciptakan produk sains berbasis teknologi dalam rangka menjaga lingkungan sebagai ekosistem yang utuh dan memberdayakan masyarakat yang kompetitif dan komunikatif. Karya-karya inilah yang menjadi esensi dari sinergitas tritunggal tersebut dalam mewujudkan pendidikan yang adaptif dan heterogen yang dapat mengisi celah edukasi yang mumpuni. Dengan demikian, rencana, aktualisasi, pengembangan, dan diseminasi hasil program pendidikan dapat dinikmati oleh masyarakat, bangsa, dan negara.

Berdasarkan temuan tersebut, tritunggal pendidikan yang terdiri dari sains, teknologi, dan bahasa Indonesia tercipta dari upaya membelajarkan diri dengan komitmen untuk mensyukuri karunia Tuhan yang Maha Esa. Hal ini selalu berdasar pada keingintahuan individu dalam berliterasi dengan semesta melalui rajin menulis dan membaca (Ratulisa). Konsep belajar tersebut selalu dipelajari oleh peserta didik dan mahasiswa yang sudah diimplementasikan oleh pakar pendidikan Indonesia sekaligus guru besar Universitas Sebelas Maret, yakni Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum. Melalui peluncuran program Diklisa (Dialog, Literasi, Pendidikan, Bahasa, dan Sastra) di tanggal 2 Mei 2025 yang bertepatan dengan hari Pendidikan nasional. Filosofi Pendidikan yang diprakarsai pertama oleh Bapak Pendidikan Nasional yakni, Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan Indonesia selalu berusaha memanusiakan manusia yang berkonsep “Asah, Asih, Asuh”.

Sebagai penutup dalam tulisan ini, sebagai pembelajar alangkah baiknya harus berkomitemen untuk menguatkan potensi yang dimiliki melalui ratulisa (rajin membaca dan menulis) yang dipelopori oleh Gerakan literasi arfuzh ratulisa yang didirikan oleh Bapak Ratulisa yakni, Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S, M.Hum., kompetensi yang kritis, kreatif, dan kolaboratif akan terbentuk dengan sendirinya. Slogan yang selalu digaungkan oleh beliau ialah “membacalah untuk menulis, dan menulislah agar dibaca umat sepanjang hayat”. Dengan demikian, Pendidikan di Indonesia selalu berkembang sebagai bekal mewujudkan Indonesia emas yang diperkuat melalui prospek pendidik yang adaptif, unggul, dan bermartabat di abad-21.

Baca Juga: Ensiklopedia Bahasa Indonesia dan Sains: Klik Download Now

 

 

 

إرسال تعليق

أحدث أقدم