Hakikat Upaya Penemuan dalam Penelitian Doktoral: Pembelajaran Sastra dengan Model Project Based Learning dan TPACK di Sekolah


Membacalah untuk menulis dan menulislah agar dibaca umat sepanjang hayat 

(Muhammad Rohmadi Ratulisa)


Sumber : Open Ai/Chat GPT


Transformasi pendidikan di abad 21, menekankan adanya peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan di seluruh jenjang pendidikan. Salah satu peningkatan mutu pendidikan mengarah pada hasil penelitian oleh mahasiswa doktoral di seluruh Indonesia. 

Penelitian doktoral pada hakikatnya merupakan upaya ilmiah yang menuntut penemuan baru, baik dalam bentuk pengembangan teori, model, maupun pemaknaan ulang terhadap praktik pendidikan yang telah berlangsung. Dalam konteks pendidikan sastra, tuntutan penemuan tersebut menjadi semakin relevan ketika pembelajaran di sekolah dihadapkan pada perubahan paradigma belajar abad ke-21. Pembelajaran sastra tidak lagi cukup diposisikan sebagai aktivitas membaca dan menghafal karya sastra, melainkan sebagai ruang kreatif yang menumbuhkan daya kritis, imajinasi, empati, serta literasi budaya peserta didik. Oleh karena itu, penelitian doktoral yang mengkaji pembelajaran sastra melalui model Project Based Learning yang dipadukan dengan kerangka TPACK menjadi representasi nyata dari hakikat upaya penemuan dalam ranah akademik dan praksis pendidikan.

Upaya penemuan dalam penelitian doktoral tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru dari nol. Penemuan dapat berupa integrasi konseptual, rekonstruksi pendekatan, atau penguatan landasan filosofis terhadap praktik pembelajaran yang telah ada. Model Project Based Learning, misalnya, bukanlah konsep baru dalam dunia pendidikan. Namun, ketika model ini diadaptasikan secara kontekstual dalam pembelajaran sastra dan dipadukan dengan TPACK, lahirlah ruang penemuan yang bernilai akademik. Penemuan tersebut terletak pada cara pembelajaran sastra dirancang, diimplementasikan, dan dimaknai sebagai proses pembentukan kompetensi literasi, karakter, dan kecakapan digital secara simultan.

Pembelajaran sastra melalui Project Based Learning menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Sastra tidak hanya dipelajari sebagai teks, tetapi diolah menjadi proyek kreatif yang bermakna. Peserta didik dapat mengeksplorasi cerpen, puisi, drama, atau novel melalui proyek penulisan kreatif, pementasan, adaptasi digital, atau kritik sastra berbasis multimedia. Dalam konteks ini, sastra bertransformasi menjadi medium pembelajaran yang hidup dan kontekstual. Upaya penemuan dalam penelitian doktoral muncul ketika peneliti mampu merumuskan pola pembelajaran sastra yang sistematis, reflektif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21.

Kerangka TPACK memperkaya pembelajaran sastra berbasis proyek dengan menempatkan teknologi bukan sekadar sebagai alat bantu, melainkan sebagai bagian integral dari proses pedagogis. Pengetahuan tentang konten sastra, strategi pedagogis, dan pemanfaatan teknologi saling berkelindan dalam desain pembelajaran. Dalam penelitian doktoral, upaya penemuan tercermin pada bagaimana ketiga unsur tersebut diintegrasikan secara harmonis sesuai dengan karakteristik peserta didik dan konteks sekolah. Integrasi ini menuntut kepekaan akademik dan refleksi kritis terhadap praktik pembelajaran, sehingga teknologi tidak mendominasi, tetapi justru memperkuat pemahaman sastra.

Hakikat penemuan dalam penelitian doktoral juga terletak pada kemampuan peneliti untuk membaca celah permasalahan yang belum terjawab dalam praktik pembelajaran sastra. Di banyak sekolah, pembelajaran sastra masih bersifat tekstual dan berorientasi pada hasil kognitif semata. Penelitian doktoral yang mengusung Project Based Learning dan TPACK berupaya menemukan alternatif pembelajaran yang lebih holistik. Penemuan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan hasil belajar, tetapi juga pada perubahan sikap, kreativitas, dan kesadaran budaya peserta didik. Dengan demikian, penemuan yang dihasilkan bersifat transformatif, bukan sekadar prosedural.

Dalam perspektif doktoral, upaya penemuan juga berkaitan dengan pengembangan model atau kerangka konseptual pembelajaran sastra yang dapat direplikasi atau diadaptasi. Penelitian tidak berhenti pada deskripsi praktik, tetapi melangkah pada perumusan prinsip, tahapan, dan indikator keberhasilan pembelajaran sastra berbasis proyek dan TPACK. Di sinilah letak kontribusi keilmuan penelitian doktoral. Peneliti tidak hanya menjadi pelapor fenomena, tetapi juga perancang pengetahuan yang memberi arah baru bagi pengembangan pembelajaran sastra di sekolah.

Pembelajaran sastra dengan Project Based Learning dan TPACK juga membuka ruang penemuan dalam ranah evaluasi pembelajaran. Penilaian tidak lagi berfokus pada tes tertulis semata, melainkan pada proses, produk, dan refleksi belajar peserta didik. Penelitian doktoral dapat menemukan pendekatan evaluasi autentik yang selaras dengan karakter sastra sebagai ekspresi kreatif dan reflektif. Penemuan ini memperkaya khazanah penilaian pembelajaran bahasa dan sastra, sekaligus menjawab kebutuhan pendidikan yang menekankan pembelajaran bermakna.

Selain itu, upaya penemuan dalam penelitian doktoral memiliki dimensi filosofis dan epistemologis. Pembelajaran sastra berbasis proyek dan TPACK merepresentasikan pandangan bahwa pengetahuan tidak ditransmisikan secara linear, tetapi dikonstruksi melalui pengalaman, kolaborasi, dan refleksi. Penelitian doktoral yang mengkaji pendekatan ini berkontribusi pada penguatan paradigma konstruktivistik dan humanistik dalam pendidikan sastra. Penemuan yang dihasilkan bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga memperkaya cara pandang terhadap hakikat belajar dan mengajar sastra.

Berdasarkan uraian di atas, mahasiswa sebagai agen perubahan bangsa, harus mampu memantaskan diri sebagai ilmuwan sejati sesuai level KKNI yang menjadi dasar perbedaan dari tingkat pendidikan yang telah diselesaikan. Menurut penulis, disertasi sebagai objek penelitian doktoral, harus mampu mengembangkan untuk menciptakan keilmuan baru yang berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Menurut penulis, terdapat upaya pembaruan dalam hasil penelitian mahasiswa S3 Universitas Sebelas Maret, program studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Judulnya, Pembelajaran Sastra dengan model PjBL dan TPACK di SMA Surakarta. Hasil penelitian ini, berusaha menyebarluaskan informasi pembelajaran sastra di SMA yang diadopsi dari pendekatan berbasis proyek dan TPACK. Pembelajaran sastra yang dilakukan oleh guru di sekolah mitra adalah apresiasi sastra berupa, puisi, cerpen, dan drama. Ketiga objek pembelajaran sastra ini, diwarnai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, meliputi platform YouTube, wa, tiktok, goggle drive, dan kahoot. Disinilah ditemukan adanya inovasi didaktik oleh pendidik dalam pembelajaran di sekolah, dalam bidang sastra dan bahasa Indonesia.

Pada akhirnya, hakikat upaya penemuan dalam penelitian doktoral terletak pada keberanian intelektual untuk menawarkan pemaknaan baru terhadap praktik pembelajaran. Pembelajaran sastra dengan model Project Based Learning dan TPACK di sekolah menjadi contoh konkret bagaimana penelitian doktoral dapat menjembatani teori dan praktik secara kreatif dan reflektif. Penemuan yang dihasilkan tidak harus revolusioner, tetapi harus bermakna, kontekstual, dan berkontribusi nyata bagi pengembangan ilmu dan peningkatan kualitas pendidikan. Dengan demikian, penelitian doktoral tidak hanya menjadi puncak akademik individu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan transformasi bagi pembelajaran sastra di sekolah.

Sebagai penutup, pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara, Asah Asih Asuh. Hal ini sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan tujuan negara Indonesia dalam mukadimah UUD 1945. Menurut penulis, langkah yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat di usia produktif wajib belajar, harus banyak belajar dengan literasi rajin menulis dan membaca (Ratulisa). Semoga kelak Tuhan dan semesta memberikan kuasanya pada kita semua, agar apa yang kita upayakan bisa tercapai.


إرسال تعليق

أحدث أقدم