Andriyanto Kurniawan, S.Pd., M.Pd.
Membacalah untuk menulis, dan Menulislah agar Dibaca Umat Sepanjang Hayat
(Muhammad Rohmadi Ratulisa)
Dalam lanskap pendidikan Indonesia yang terus berdinamika, upaya untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, merata, dan inklusif bukan sekadar wacana, melainkan suatu keniscayaan yang mendesak. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin keempat (SDG 4), menempatkan pendidikan berkualitas sebagai fondasi utama untuk mencapai tujuan-tujuan lainnya. Dalam konteks inilah, Program Hibah yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Sains dan Teknologi (Kemendiksaintek) hadir sebagai instrumen strategis. Sebuah disertasi doktor yang dimulai pada tahun 2025 mengupas dengan mendalam peran program hibah ini, tidak hanya sebagai penyedia dana, tetapi sebagai katalis transformatif yang kompleks dalam memperkuat ekosistem pendidikan nasional agar selaras dengan cita-cita SDGs.
Pengalaman penulis sebagai mahasiswa, mengungkapkan bahwa program penelitian disertasi doktor ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan doktoral secara on going (dalam perjalan) baik di Indonesia maupun luar negeri. Keistimewaan penelitian ini sebagai salah satu program beasiswa bertahap selama 2 tahun/multi years, menjadi harapan bagi para mahasiswa, apalagi seperti penulis yang belum bekerja dan berpenghasilan. Namun, untuk megakses program PDD ini diperlukan keterampilan berkomunikasi yang baik dengan promotor dan ko promotor. Hal ini penulis dapatkan atas pendalaman materi oleh Prof. Dr. E. Nugraheni Eko Wardani, S.S., M.Hum., beliau adalah Kaprodi S2-Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret, yang juga sebagai guru saya dengan bidang kepakaran sastra dan pembelajarannya. Mahasiswa jika mampu mendapatkan program hibah dari Kemendiksaintek ini, lebih memudahkan proses masa studi dan pembiayaan dalam menyelesaikan program penelitian dalam disertasinya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas sesuai dengan pengetahuan dan dasar yang diketahui. Jika terdapat ketidakjelasan atau kekurangan informasi dalam essai ini, rekan-rekan blogger bisa melengkapinya.
Esai ilmiah ini, yang berbentuk artikel opini, berangkat dari sebuah kesadaran bahwa pendanaan pendidikan seringkali terjebak dalam narasi teknis administratif. Disertasi yang menjadi dasar dalam pembahasan ini menawarkan perspektif yang lebih holistik dan kritis. Program Hibah Kemendikbudristek sebagai suatu "ekosistem pendanaan" yang hidup, di mana aliran dana tidak berhenti pada transaksi, tetapi memicu rangkaian reaksi sosial, akademik, dan inovasi yang berdampak jangka panjang. Artikel opini ini, menyatakan bahwa keberhasilan program hibah tidak boleh lagi hanya diukur dari laporan keuangan dan jumlah publikasi, melainkan dari sejauh mana program PDD mampu memberdayakan komunitas pendidikan di Indonesia yang memiliki kualifikasi sesuai prosedur yang telah ditetapkan, menumbuhkan kemandirian berpikir, dan mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan di perguruan tinggi, khususnya di jenjang doktoral.
Tulisan ini secara deskriptif menjabarkan desain program hibah, terutama yang terkait dengan penelitian dan pengabdian masyarakat, telah berevolusi. Dari yang sebelumnya cenderung menurun dan berorientasi proyek, perlahan namun pasti bergeser ke arah yang lebih evaluarif partisipatif, dan berorientasi pada pemecahan masalah kontekstual. Hal ini berdasarkan gagasan penulis.
Program seperti Hibah Penelitian Dasar, Hibah Terapan, dan skema pendanaan untuk perguruan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) dianalisis bukan dari sisi regulasinya semata, tetapi dari napas dan roh yang dibawanya. Napas itu adalah semangat untuk mendorong perguruan tinggi dan para pendidik tidak menjadi sekadar penerima pasif, tetapi menjadi arsitek pembangunan pendidikan di wilayahnya masing-masing.
Salah satu fokus utama yang diangkat dalam esai ini adalah keterkaitan yang erat antara program hibah dengan peningkatan kapasitas guru dan dosen. Pendidikan berkualitas, sesuai SDG 4, sangat bergantung pada kualitas pendidiknya. Disertasi yang menjadi rujukan dalam PDD menunjukkan bahwa program hibah yang dirancang dengan baik menjadi target khusus kolaborasi antara kampus dan sekolah, atau yang mendorong penelitian tingkat lanjut. Di sini, dosen dan mahasiswa tidak sekadar mengejar output akademis, tetapi terlibat dalam siklus refleksi-aksi yang memperkaya praktik pedagogis yang menimbulkan inovasi dan proyek kreatif dari permasalahan yang ingin diselesaikan dalam konteks PDD. Hibah ini menjadi medium untuk menguji inovasi pembelajaran, mengembangkan materi ajar yang relevan dengan budaya lokal, dan mengintegrasikan teknologi secara tepat guna, bukan sekadar pengulangan materi. Menurut penulis, hibah PDD ini menjadi angin segar mahasiswa S3-Pendidikan Bahasa Indonesia yang memiliki keterbatasan biaya dalam mengakses maupun menyelesaikan pendidikan tingkat tertinggi sebagai upaya mencapai tujuan SDGs di point 4. Dengan adanya perencanaan riset yang kolaboratif dan sesuai asta cita Indonesia Maju, maka diperkenankan mahasiswa berkomunikasi baik dengan para promotor agar, rencana riset yang diajukan maksimal dan layak untuk didanai oleh DPPM Kemendiksaintek 2025.
Aspek lain yang mendapat sorotan adalah peran program hibah dalam mendorong pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. SDG 4 menekankan pada pendidikan untuk semua kalangan masyarakat di Indonesia sesuai bidang peminatannya, tanpa memandang latar belakang gender, ekonomi, geografi, atau disabilitas. Artikel opini ini menggambarkan sejumlah skema hibah khusus dirancang untuk menjawab tantangan ini. Hibah untuk penelitian tentang pendidikan inklusif, pendanaan bagi komunitas marginal, atau program pengabdian yang menyasar anak-anak putus sekolah, dilihat sebagai bukti nyata upaya mentranslasikan prinsip SDGs ke dalam aksi nyata. Ditekankan bahwa melalui pendekatan riset dan pengabdian yang didanai hibah, isu-isu seperti kesenjangan digital, rendahnya literasi dasar di daerah tertentu, dan kurangnya representasi kelompok rentan dalam kurikulum dapat diidentifikasi dan diatasi secara lebih sistematis.
Berdasarkan pandangan penulis, esai ini mengaitkan program hibah dengan penguatan ekosistem riset pendidikan nasional. Pendidikan berkualitas harus dilandasi oleh praktik yang berbasis bukti (evidence-based practice). Program hibah penelitian dari Kemendiksaintek dipandang sebagai tulang punggung bagi tumbuhnya khazanah pengetahuan lokal tentang pendidikan Indonesia. Disertasi 2025 yang bisa diajukan sebagai topik penelitian ialah tema-tema yang sangat kontekstual dan relevan dengan SDGs, seperti pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (ESD), pendidikan karakter di era digital, atau model pembelajaran pascabencana. Dengan demikian, hibah tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk agenda riset pendidikan nasional yang lebih relevan dengan tantangan zaman.
Namun, sebagai sebuah artikel opini, tulisan ini juga tidak menghindar dari kritik konstruktif. Diakui bahwa di balik potensi besarnya, program hibah ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Birokrasi yang terkadang berbelit, beban administratif yang memberatkan, dan indikator keberhasilan yang terlalu kuantitatif dianggap dapat menurunkan semangat inovasi dan keberlanjutan. Esai ini mengingatkan bahwa semangat SDGs adalah keberlanjutan, sementara pola pendanaan hibah harus diupayakan sistematis. Risiko terjadinya "kelelahan hibah" di kalangan akademisi, di mana energi lebih banyak terkuras untuk mengurus proposal dan laporan daripada melakukan perubahan nyata di lapangan, juga menjadi perhatian.
Dalam konteks PDD di perguruan tinggi, mahasiswa dan dosen harus berusaha bergerak secara visioner, karena mengingat tantangan dan kebutuhan NKRI di masa kini sangat sistematis dan merujuk pada setiap individu yang mampu dan berkompeten. Oleh karena itu, penulis mengajak para generasi di seluruh Indonesia untuk berliterasi dengan Ratulisa (Rajin Menulis dan Membaca), yang diprakarsai oleh Bapak Ratulisa (Prof.Dr.Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum.) Dengan membaca maka isi pikiran ini akan menjadi lebih aktif dan memahami setiap hal yang diutamakan bagi masa depan. Menulis, menjadi bagian dari pembuktian belajar sepanjang hayat dan sejagad hayat. Mari kita rajin menulis dan membaca untuk melakukan inovasi riset dengan tajuk Penelitian Disertasi Doktor di Indonesia sebagai Upaya Memajukan Pendidikan Indonesia di Masa Kini.
Pada bagian penutup, esai ilmiah ini menegaskan kembali posisi sentral Program Hibah Kemendiksaintek khususnya PDD dalam peta jalan pendidikan nasional menuju 2030. Program ini bukan sebagai pelengkap dari implementasi APBN di bidang pendidikan, melainkan urat nadi dari upaya mewujudkan SDG 4. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk terus berevolusi: menjadi lebih fleksibel, lebih mempercayai para pelaku di lapangan, dan lebih terintegrasi dengan kebijakan pendidikan yang lebih luas. Disertasi doktor 2025 yang menjadi landasan pembahasan ini akhirnya memberikan sebuah pesan optimis namun reflektif. Program hibah, jika dikelola dengan visi yang jelas dan prinsip gotong royong, memiliki potensi luar biasa untuk tidak sekadar memperkuat, tetapi mentransformasi pendidikan Indonesia. Ia dapat menjadi jembatan yang menghubungkan antara kebijakan di tingkat nasional dengan realitas dan inovasi di tingkat lokal, antara teori akademis dengan praktik mengajar sehari-hari, dan antara cita-cita luhur SDGs dengan langkah-langkah konkret di ruang kelas dan komunitas di seluruh pelosok negeri. Pada akhirnya, penguatan pendidikan berkualitas adalah tentang memanusiakan dan memberdayakan seluruh unsurnya, dan program hibah dapat memberikan kontribusi bagi NKRI dalam narasi yang dibangun oleh para mahasiswa dan dosen yang mendapat hibah DPPM-PDD ini, sebaga pemberdayaan yang paling potensial yang kita miliki saat ini.
