Andriyanto Kurniawan, S.Pd., M.Pd.
Feminisme merupakan salah satu wacana penting dalam kajian sastra modern yang tidak hanya berbicara tentang perjuangan perempuan memperoleh kesetaraan hak, tetapi juga tentang bagaimana perempuan memaknai dirinya dalam relasi sosial, budaya, dan keluarga. Di era masa kini, feminisme tidak lagi dipahami semata sebagai perlawanan terhadap dominasi laki-laki, melainkan sebagai upaya membangun kesadaran kritis terhadap struktur sosial yang kerap menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Sastra hadir sebagai medium reflektif yang mampu merekam dinamika tersebut secara mendalam dan manusiawi. Novel Dua Ibu karya Arswendo Atmowiloto menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang relevan untuk dibaca dalam bingkai feminisme kontemporer, karena mengangkat kompleksitas peran perempuan dalam ruang domestik sekaligus sosial.
Novel Dua Ibu menampilkan sosok perempuan sebagai pusat narasi, bukan sekadar pelengkap cerita. Melalui tokoh-tokoh perempuan yang dihadirkan, pembaca diajak menyelami pergulatan batin, pilihan hidup, serta konflik emosional yang sering kali tersembunyi di balik peran tradisional seorang ibu. Arswendo tidak menggambarkan perempuan sebagai figur yang lemah dan pasif, melainkan sebagai individu yang memiliki daya refleksi, keberanian mengambil keputusan, dan kapasitas moral yang kuat. Dalam konteks ini, feminisme dalam novel tidak tampil dalam bentuk retorika keras atau slogan ideologis, tetapi hadir secara halus melalui pengalaman hidup tokoh-tokohnya.
Salah satu kekuatan novel ini terletak pada penggambaran peran keibuan yang tidak tunggal. Ibu tidak hanya diposisikan sebagai sosok pengasuh yang penuh pengorbanan, tetapi juga sebagai manusia dengan keinginan, kekecewaan, dan aspirasi pribadi. Perspektif feminisme masa kini menolak pengerdilan peran perempuan semata-mata sebagai “ibu ideal” yang harus selalu mengalah dan menekan diri. Novel Dua Ibu justru memperlihatkan bagaimana peran ibu dapat menjadi arena konflik identitas, terutama ketika tuntutan sosial bertabrakan dengan kebutuhan personal. Dalam hal ini, Arswendo berhasil mengangkat isu feminisme yang relevan, yakni pengakuan terhadap subjektivitas perempuan.
Dalam masyarakat patriarkal, perempuan sering kali diukur berdasarkan kemampuannya memenuhi ekspektasi sosial, khususnya dalam ranah keluarga. Novel ini menggambarkan bagaimana tokoh-tokoh perempuan menghadapi tekanan moral dan norma sosial yang mengikat. Mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang tidak selalu hitam putih. Feminisme di era masa kini menekankan pentingnya kebebasan perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk dalam mengambil keputusan yang mungkin tidak sepenuhnya sejalan dengan nilai-nilai tradisional. Novel Dua Ibu merepresentasikan pergulatan tersebut secara realistis, tanpa menghakimi tokoh perempuan yang mengambil pilihan berbeda.
Relasi antara perempuan dan laki-laki dalam novel ini juga mencerminkan dinamika feminisme yang lebih cair. Laki-laki tidak selalu digambarkan sebagai antagonis mutlak, begitu pula perempuan tidak selalu tampil sebagai korban. Hubungan antartokoh dibangun dalam kerangka kemanusiaan yang kompleks. Pendekatan ini sejalan dengan feminisme masa kini yang lebih menekankan dialog dan kesetaraan relasional daripada oposisi biner antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, novel ini menawarkan sudut pandang yang lebih matang dan reflektif dalam melihat persoalan gender.
Aspek feminisme dalam Dua Ibu juga tampak pada bagaimana perempuan berhadapan dengan nilai moral dan tanggung jawab sosial. Tokoh perempuan tidak digambarkan sebagai sosok yang egois dalam memperjuangkan kebebasan dirinya, tetapi sebagai individu yang terus menimbang dampak pilihannya terhadap orang lain. Inilah bentuk feminisme yang humanis, yang tidak menafikan nilai empati dan kepedulian sosial. Perempuan diberi ruang untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara otonom, tanpa harus kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang melekat dalam dirinya.
Dalam konteks sastra Indonesia, novel Dua Ibu memberikan kontribusi penting terhadap wacana feminisme yang berakar pada realitas sosial lokal. Feminisme yang dihadirkan tidak bersifat universal abstrak, melainkan kontekstual, berpijak pada budaya, nilai keluarga, dan struktur sosial masyarakat Indonesia. Hal ini menjadikan novel tersebut relevan untuk dibaca oleh pembaca masa kini, terutama dalam memahami bagaimana feminisme dapat tumbuh dan berkembang tanpa harus tercerabut dari akar budaya. Arswendo menunjukkan bahwa kesadaran gender dapat dibangun melalui narasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bahasa yang digunakan dalam novel juga memperkuat pesan feminisme yang ingin disampaikan. Narasi yang lugas namun emosional memungkinkan pembaca merasakan konflik batin tokoh perempuan secara lebih intim. Bahasa menjadi sarana untuk mengartikulasikan suara perempuan yang selama ini kerap terpinggirkan. Melalui dialog dan monolog batin, pembaca diajak memahami sudut pandang perempuan secara utuh, bukan sebagai objek pandangan, melainkan sebagai subjek yang berpikir dan merasakan.
Di era masa kini, ketika isu feminisme semakin mengemuka dalam berbagai ranah kehidupan, novel Dua Ibu tetap memiliki relevansi yang kuat. Novel ini mengingatkan bahwa perjuangan perempuan tidak selalu berlangsung di ruang publik atau dalam bentuk gerakan besar, tetapi sering kali terjadi dalam ruang-ruang personal yang sunyi dan penuh dilema. Feminisme bukan hanya tentang kesetaraan formal, tetapi tentang pengakuan terhadap pengalaman hidup perempuan dalam segala kompleksitasnya. Novel ini menjadi cermin yang memantulkan realitas tersebut dengan jujur dan menyentuh.
Dari uraian di atas tentang feminisme yang dibahas dalam novel Dua Ibu karya Arswendo Atmowiloto, menurut penulis mempertemukan pandangan sosial dari sosok Ibu di era tradisional (era 1990 an) dan masa kini (2015-2026). Perbedaan yang menonjol dari peristiwa dalam novel tersebut ialah, bagaimana peran sosok Ibu dalam mendidik anak-anak untuk bisa menjalani sebuah kehidupan dengan menghayati makna adil dan inklusif. Dari peristiwa keseluruhan, penulis menemukan feminisme yang memojokkan wanita sebagai Ibu, untuk tetap berkontradiksi dalam hal mengasuh anak dan kegiatan rumah, tanpa disadari tidak memberi kebebasan di lingkup sosial. Akhirnya, anak yang diperankan dalam novel Dua Ibu tersebut, tidak mengenali Ibunya semasa sosok sang Ibu itu selalu ada. Yang terjadi, bahwa wanita yang meninggal, karena diberi tahu oleh saudaranya merupakan Sang Ibu yang selama ini dicari. Demikianlah, peninjauan feminisme sosial dan moral yang ditandai dengan batasan perempuan sebagai Ibu yang kurang mendapat akses bergerak di kehidupan sosial untuk memberikan arti hidup bagi sang Anak. Feminisme bukan ambisi seorang wanita untuk menjadi sama dengan laki-laki, tetapi memperkuat peran kaum patriaki dalam kehidupan sosial di masyarakat.
Berdasarkan uraian tentang feminisme dalam novel Dua Ibu karya Arswendo Atmowiloto adalah bagian dari hasil penelitian sastra di era digital dan disandingkan dengan kehidupan sosial di masa kini. Penulis mendapatkan pengetahuan ini melalui belajar dengan model literasi Ratulisa (Rajin Menulis dan Membaca) yang diprakarsai oleh Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum., yang menunjukkan pentingnya kiat bergerak untuk membelajarkan diri sepanjang hayat sebagai bukti mensyukuri karunia Tuhan. Dari pandangan beliau, penulis berusaha menjadi pembelajar yang visioner, untuk berusaha menambah wawasan dengan berliterasi dengan Ratulisa, semoga kelak Tuhan memberikan keberhasilan untuk hidup di semesta ini dengan saling berbagi. Demimkanlah gagasan penulis dari tulisan yang bertajuk feminisme dalam novel Dua Ibu karya Arswendo Atmowiloto yang merupakan karya sastra tempo dulu yang sarat dengan ilmu sosial dan psikologi.
Novel Dua Ibu karya Arswendo Atmowiloto hadir sebagai wacana yang reflektif, humanis, dan kontekstual. Novel ini tidak memaksakan ideologi, tetapi mengajak pembaca merenung tentang posisi perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Melalui penggambaran tokoh perempuan yang kuat secara batin, novel ini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak atas suara, pilihan, dan makna hidupnya sendiri. Dalam bingkai sastra, feminisme menjadi kekuatan naratif yang tidak hanya memperkaya cerita, tetapi juga memperluas kesadaran pembaca tentang keadilan gender di era masa kini.
